Baralek Panghulu Gurun 2026, Adat yang Berkelanjutan: Pergeseran Siklus Baralek

Baralek Panghulu Gurun 2026, Adat yang Berkelanjutan: Pergeseran Siklus Baralek
Karapatan Adat Nagari Gurun
11 September 2025
Blog

Di Minangkabau, adat diyakini tidak akan lapuk dimakan hujan dan tidak akan lekang oleh panas. Pepatah ini bukan hanya simbol kebanggaan, tetapi kenyataan yang terus hidup di tengah masyarakat. Salah satu buktinya bisa kita lihat di Nagari Gurun, melalui tradisi baralek panghulu yang tetap dijaga hingga hari ini.

Siklus Panjang di Masa Dahulu

Sejak awal abad ke-20, baralek panghulu di Nagari Gurun berlangsung dalam siklus panjang.

1901: Baralek pertama yang tercatat, menegaskan kembali marwah adat di awal abad, ketika kolonialisme masih kuat memengaruhi kehidupan nagari.

1933: Baralek berlangsung di masa sulit, ketika masyarakat menghadapi krisis ekonomi dunia. Namun adat tetap tegak, membuktikan nagari punya daya tahan.

1966: Baralek setelah pergolakan politik nasional. Saat itu, gala panghulu ditegakkan sebagai benteng persatuan di tengah arus perubahan negara.

1995: Baralek terakhir dalam siklus panjang, di akhir abad ke-20. Generasi panghulu yang dilantik waktu itu menopang nagari hingga memasuki era reformasi.

Mengapa siklusnya begitu lama? Karena pada masa itu, satu generasi panghulu bisa menopang nagari hingga puluhan tahun. Para ninik mamak masih banyak, kuat, dan mampu menjaga marwah adat tanpa tergesa-gesa melakukan regenerasi.

Pergeseran Siklus di Masa Kini

Namun, sejak 1995, siklus baralek mulai bergeser.

2011: Baralek kembali digelar, hanya 16 tahun setelah sebelumnya. Banyak ninik mamak yang sudah berpulang, sehingga regenerasi adat dipercepat agar limbago tidak kosong.

2026 (yang akan datang): Baralek direncanakan kembali, hanya berselang 15 tahun. Ini menjadi penanda bahwa adat masih kokoh, meskipun ritmenya menyesuaikan kebutuhan zaman.

Pergeseran ini terjadi karena nagari tidak bisa membiarkan limbago kosong. Gala tidak boleh dibiarkan tasuruk, dan panghulu tidak boleh dibiarkan tanpa pewaris.

Sebagaimana dikatakan salah seorang ninik mamak Nagari Gurun:

“Adat indak buliah kosong, panghulu indak buliah tasuruk. Kalau nan tuo alah barpulang, nan mudo wajib maju mananggung.”

Makna Adat yang Berkelanjutan

Apa artinya semua ini? Justru di sinilah terlihat betapa adat Nagari Gurun masih hidup dan berkelanjutan. Perubahan siklus bukan tanda adat melemah, melainkan bukti bahwa adat sanggup menyesuaikan diri dengan zaman.

Adat yang berkelanjutan artinya marwah tetap tegak meskipun generasi berganti. Limbago tetap kokoh meskipun waktu berubah. Dan nagari tetap hidup karena selalu ada yang siap menegakkan gala.

Penutup

Baralek panghulu bukan sekadar pesta adat, tapi simbol keberlanjutan sebuah nagari. Dengan mempercepat regenerasi, Nagari Gurun memastikan bahwa adat tidak pernah kosong, kepemimpinan tidak pernah terputus, dan marwah tidak pernah hilang ditelan zaman.

Penulis : Opini

Sumber: prokabar.com