Panghulu, Irigasi, dan Lumbuang Padi: Kearifan Lokal untuk Ketahanan Pangan Nagari

Panghulu, Irigasi, dan Lumbuang Padi: Kearifan Lokal untuk Ketahanan Pangan Nagari
Karapatan Adat Nagari Gurun
22 November 2025
Blog

Oleh: Dr. H. Febby Dt. Bangso, S.St.Par., M.Par., QRGP, CFA
Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gurun, Sungai Tarab, Luhak Nan Tuo, Kabupaten Tanah Datar

Di Minangkabau, sawah bukan hanya hamparan hijau tempat padi bertumbuh. Sawah adalah napas kehidupan nagari. Dari butir padinya lahir daya tahan keluarga, dari limpahan hasilnya berdiri wibawa kaum, dan dari sistem pengelolaannya tegaklah marwah adat.

Di balik itu semua, ada satu sosok yang menjadi pengawal keseimbangan: panghulu. Ia bukan sekadar pemimpin kaum, melainkan penjaga kearifan yang menata air, tanah, dan hasil panen agar tidak sekadar memberi makan hari ini, tetapi juga menjamin esok.

Air yang Adil, Sawah yang Subur

Dalam adat Minangkabau, air bukan hanya urusan teknis, tetapi juga moral. Melalui kapalo banda, air sawah dialirkan dengan prinsip keadilan. Ada pepatah adat yang menyindir keras keserakahan:

“Nan di hulu indak basilek, nan di hilia indak bakisah.”
(Orang di hulu tak boleh rakus, orang di hilir tak boleh menderita.)

Kalimat ini menjadi pagar tak kasat mata yang membentengi nagari dari pertikaian. Karena ketika air mengalir adil, sawah pun subur, panen pun tiba, dan masyarakat hidup dalam rukun.

Lumbuang Padi: Cadangan Kolektif Nagari

Namun kehidupan tidak selamanya terang. Ada musim kemarau, ada paceklik, ada bencana. Untuk itulah nenek moyang mendirikan lumbuang padi nagari. Di sanalah sebagian hasil panen disimpan—bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk mengamankan bersama.

Tambo adat mengajarkan:

“Sawah bapandam, banda bapaga, lumbuang bapintu, adat bamamak, panghulu bamarwah.”

Artinya, sawah ada batasnya, banda ada pagar airnya, lumbuang ada pintunya, adat ada aturannya, dan panghulu berwibawa menjaga semua itu. Lumbuang menjadi simbol kesetiakawanan nagari: simpanan padi sebagai cadangan pangan kolektif, penyangga hidup ketika masa sulit datang.

Pelajaran untuk Hari Ini

Kini, ketika dunia dilanda krisis pangan, ketika beras lebih sering dihitung dalam grafik impor ketimbang hasil sawah sendiri, warisan ini seolah memanggil kita kembali. Bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal kearifan. Bukan hanya soal pasar, melainkan juga solidaritas.

Panghulu dengan adatnya, kapalo banda dengan pengelolaan airnya, lumbuang dengan cadangan pangannya—semua itu membentuk satu ekosistem yang membuat nagari bertahan melewati zaman.

Esensi dari sistem ini sederhana, tapi dalam: makan hari ini cukup, esok pun terjamin. Minangkabau telah membuktikan bahwa adat bisa menjadi fondasi ekonomi, bahwa budaya bisa menjadi dasar ketahanan pangan.

Maka, ketika dunia resah mencari solusi, nagari justru telah lama menyimpan jawabannya—di dalam sawah, di aliran banda, di pintu lumbuang, dan di hati panghulu yang tetap setia menjaga kearifan lokal demi ketahanan pangan nagari.

Penulis: Febby Dt Bangso